Kamis, 28 Mei 2020

SKRIPSI KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK BAB I


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Pendidikan tidaklah semata-mata dapat menyekolahkan anak untuk menimba ilmu pengetahuan, namun lebih luas dari itu. Anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika memperoleh pendidikan yang paripurna (komprehensif) agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, negara, dan agama. Anak seperti itu adalah dalam kategori sehat dalam arti luas, yakni sehat fisik, mental emosional, mental intelektual, mental sosial, dan mental spiritual. Pendidikan hendaklah dilakukan sejak dini yang dapat dilakukan dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dalam pendidikan haruslah  meliputi tiga aspek, yakni aspek kognitif, afektif, psikomotorik (Mansur, 2007 : 83).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidian dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, informal. Hal ini sesuai pegertian secara yuridisial pasal 1 ayat 14 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pada hakikatnya Pendidikan anak usia dini (PAUD) ialah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak.  Selanjutnya,  pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa “(1) pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum pendidikan dasar, (2) pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, informal (3) pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal : TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) pendidikan anak usia dini nonformal : KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat (5) pendidikan anak usia dini jalur informal : pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, (6) ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah”.
Anak usia dini adalah kelompok yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan unik. Anak memiliki pola pertumbuhan (koordinasi motorik halus dan kasar), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi, yang tercakup dalam kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (IQ), sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Perkembangan kemampuan kognitif anak dapat dilihat dari apa yang mereka lakukan yang di dorong rasa ingin tahu yang besar pada diri anak. Kognitif akan cepat berkembang, apalagi melalui permainan yang disukai oleh anak.
Anak didik pada usia dini masih sangat terbatas kemampuannya, pada usia ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka terhadap tindakan-tindakan orang disekelilingnya. Perkembangan kognitif sangat diperlukan, karena perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berfikir.
Kemampuan kognitif adalah proses berfikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa (Yuliani, 2006:1.3). Proses kognisi meliputi berbagai aspek, seperti persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran dan pemecahan masalah. Berdasarkan pendapat Piaget adalah maka pentingnya guru mengembangkan kemampuan kognitif anak sebagai berikut :
1.         Agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang ia lihat, dengar dan rasakan sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif.
2.         Agar anak mampu melatih ingatannya terhadap semua peristiwa dan kejadian yang pernah dialaminya.
3.         Agar anak mampu mengembangkan pemikiran-pemikirannya dalam rangka menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
4.         Agar anak memahami berbagai simbol-simbol yang tersebar di dunia sekitarnya.
5.         Agar anak mampu melakukan penalaran-penalaran baik yang terjadi secara proses alamiah (spontan) ataupun melalui proses ilmiah (percobaan).
Para ahli pendidikan melalui berbagai penelitian menemukan bahwa bermain berpengaruh pada perkembangan anak usia dini. Bermain merupakan suatu kegiatan yang dapat menstimulasi kegiatan dan perkembangan kognitif. Menurut piaget kegiatan bermain merupakan latihan untuk mengkonsolidasikan berbagai pengetahuan dan keterampilan kognitif yang baru dikuasai sehingga dapat berfungsi secara efektif.
Mansur menyebutkan bahwa permainan anak dapat digolongkan menjadi beberapa bentuk, yakni bermain sosial, bermain dengan benda, dan bermain sosio-dramatik. Namun belajar dengan bermain tidaklah mudah, karena guru harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas sehingga guru dapat menggunakan media yang tepat dan menarik bagi anak, sehingga anak dapat terangsang rasa ingin tahunya dan merespon apa yang diajarkan oleh guru.
KB Pelita Hati salah satu lembaga pendidikan yang berperan penting dalam mempersiapkan generasi yang berkualitas. KB Pelita Hati terletak di Desa Guyangan Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. KB Pelita Hati anak didiknya terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B. Pengelompokan tersebut berdasarkan jenjang usia peserta didik, usia anak didik kelompok A bervariasi mulai dari 18 bulan sampai 3 tahun dan pada kelompok B usia anak didik mulai 3 sampai 4,5 tahun.
Peneliti melakukan pengamatan terhadap permasalahan dalam pembelajaran yang terjadi di KB Pelita Hati Guyangan, pada kelompok A dari siswa yang berjumlah 20 anak dalam pembelajaran berhitung awal yaitu mulai dari angka 1 sampai 10 masih terdapat banyak yang belum hafal atau memahami secara permanen dalam melakukan perhitungan angka 1 sampai 10. Dari 20 anak didik yang bisa menyebutkan angka bilangan 1 sampai 10 hanya 7 anak yang dan itupun 3 diantaranya masih belum lancar masih memerlukan bantuan guru untuk menyebutkan permulaan kata depan dari angka. Contohnya kalau angka sembilan guru harus memberikan bantuan kata depan sem- dan begitu pula dengan angka yang lain ketika anak didik lupa dengan angka yang akan disebutkan.
Pembelajaran berhitung awal 1 sampai 10 di KB Pelita Hati guru masih belum maksimal dalam menggunakan media untuk meningkatkan kognitif anak dalam hal berhitung. Guru masih sederhana dalam menggunakan media pembelajaran berhitung seperti menggunakan 10 jari tangan dengan cara melipat dan membuka jari tangan 1 sampai dengan 10 sehingga kemampuan motorik halus anak masih kurang bisa memahami cara berhitung karena anak usia dini dalam pembelajaran haruslah ada perangsang secara imajinatif untuk memperkuat daya ingat dalam setiap pembelajaran terutama dalam pembelajaran berhitung.
Berdasarkan permasalahan yang ada di KB Pelita Hati tersebut, peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran imajinatif yaitu pembelajaran berhitung awal angka 1 sampai 10 menggunakan media kartu bergambar hewan. Yang nantinya disetiap kartu terdapat jumlah hewan yang berbeda-beda mulai dari 1 sampai 10. Diharapkan nantinya anak merespon dengan baik dan secara kognisi anak dapat menyimpan dengan baik didalam memori otaknya karena dalam berhitung diberikan gambaran yang menarik sehingga anak menjadi mudah belajar dan antusias.
B.       Identifikasi Masalah
Suatu penelitian ilmiah didalamnya terdapat identifikasi masalah yang digunakan peneliti sebagai arahan, dasar dan tendensi atas penelitian yang akan dilakukan. Adapun identifikasi masalah yang peneliti maksudkan berkaitan dengan judul diatas yaitu sebagai berikut :
1.      Peserta didik kelompok A KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara belum maksimal dalam berhitung permulaan angka 1 sampai 10.
2.      Kurangnya motivasi dalam pembelajaran dalam berhitung permulaan angka 1-10
3.      Kurangnya kreativitas guru dalam menggunakan media dalam pembelajran berhitung permulaan 1-10



C.      Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka penelitian dibatasi pada kemampuan kognitif yaitu berhitung permulaan angka 1 sampai 10 dengan media bola warna pada kelompok A KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara.
D.      Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah : Bagaimana Meningkatkan Kemampuan beritung Anak Melalui Permainan Bola Warna Pada Kelompok A KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
E.       Rencana Pemecahan Masalah
Setiap anak mempunyai berbagai macam kemampuan yang perlu dikembangkan, salah satunya adalah kognitif  anak. Kemampuan kognitif adalah proses berfikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Pengembangan kognitif dimaksudkan agar anak mampu melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya sehingga dengan pengetahuan yang didapatkannya anak dapat dengan cepat dan tepat untuk untuk mengatasi suatu sutuasi dan memecahkan suatu masalah.
Pengembangan berhitung anak dilakukan melalui permainan bola warna dengan menggunakan media bola dengan berbagai macam warna yang terdapat angka 1 sampai 10, yaitu dengan melakukan kegiatan mulai dari menghitung bola, mengelompokkan bola sesuai warna, mejumlah bilangan bola, membilang bola sesuai jumlah dan warna diharapkan agar siswa dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran.
F.       Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut : Meningkatnya Kemampuan Berhitung Anak Melalui Permainan Bola Warna Pada Kelompok A KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara Tahun Pelajaran 2018/2019.
G.      Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilaksanakan akan diperoleh beberapa manfaat baik secara teoritis maupun praktis.
1.         Manfaat Teoritis
Menjelaskan proses pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berhitung anak melalui pemainan bola warna pada kelompok A KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara.
2.         Manfaat Praktis
a.         Bagi Sekolah
Masukan dan dorongan untuk menerapkan metode yang sesuai dalam pembelajaran bagi guru KB Pelita Hati Guyangan Bangsri Jepara.



b.    Bagi Guru
Menambah ilmu pengetahuan pada guru dalam melaksanakan pembelajaran yang sesuai dan tepat pada setiap kebutuhan anak dan situasi.
c.    Bagi Siswa
Siswa mudah dalam menangkap pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan dapat meningkatkan kognitif anak dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar